Pulau Shikoku selalu punya pesona yang tak lekang oleh waktu. Di balik lanskap pegunungan yang sunyi, ladang padi yang membentang, dan desa-desa yang terasa berhenti di masa lalu, ada sebuah perjalanan spiritual yang telah dilakukan selama berabad-abad oleh ribuan orang: Ziarah 88 Kuil, atau yang dikenal dengan sebutan Shikoku Henro.
Perjalanan ini bukan sekadar rute wisata, tapi sebuah pengalaman batin yang menghubungkan tubuh, jiwa, dan tradisi Jepang kuno. Mereka yang menapaki jalur ini akan merasakan perpaduan unik antara alam, spiritualitas, dan keramahan penduduk pedesaan yang masih kental dengan budaya lama.
Menyusuri Jalur Ziarah yang Menghubungkan Empat Prefektur
Pulau Shikoku terdiri dari empat prefektur utama: Tokushima, Kochi, Ehime, dan Kagawa. Jalur ziarah ini mengelilingi keempatnya dalam rute berbentuk lingkaran sejauh hampir 1.200 kilometer. Para peziarah, atau disebut ohenro-san, biasanya memulai perjalanan di Kuil Ryozenji di Tokushima, yang menjadi titik awal resmi dari 88 kuil suci.
Bagi sebagian orang Jepang, ziarah ini bukan sekadar tradisi religius. Ini juga perjalanan refleksi diri, semacam “reset batin” di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Tidak heran jika di sepanjang jalan, kamu akan menemukan orang-orang dari berbagai usia—mulai dari kakek berusia 70-an hingga anak muda yang baru lulus kuliah—yang berjalan sambil membawa tongkat kayu suci dan mengenakan pakaian putih khas peziarah.
“Ziarah ini mengajarkanku untuk melangkah perlahan, mengenali setiap detak hati, dan melihat dunia tanpa tergesa,” ujar seorang peziarah asal Tokyo yang saya temui di jalur pegunungan antara Kochi dan Ehime.
Makna Spiritual di Balik Angka 88
Dalam ajaran Buddha Jepang, angka 88 memiliki makna mendalam. Konon, ia mewakili 88 macam dosa dan kesengsaraan manusia. Dengan mengunjungi 88 kuil ini, seorang peziarah diyakini sedang berusaha menyucikan diri dari dosa-dosa tersebut. Tradisi ini juga dikaitkan dengan Kobo Daishi (Kukai), pendiri aliran Shingon Buddhism yang sangat dihormati di Jepang.

Kobo Daishi lahir di Shikoku, dan banyak dari kuil di jalur ini diyakini pernah menjadi tempat ia bermeditasi atau mengajar. Maka dari itu, banyak peziarah yang merasa seolah berjalan bersama sang tokoh spiritual sepanjang perjalanan.
Salah satu ritual unik dalam ziarah ini adalah setiap peziarah membawa osamefuda, yaitu kertas berisi nama dan doa mereka, yang kemudian ditempelkan di setiap kuil sebagai tanda penghormatan dan persembahan spiritual.
Menyatu dengan Alam dan Waktu
Keindahan perjalanan ini bukan hanya karena nilai spiritualnya, tetapi juga karena lanskap Shikoku yang luar biasa indah dan masih alami. Jalur ziarah membawa kamu melewati hutan cedar yang tenang, sungai jernih yang berkelok di antara lembah, hingga ladang teh hijau di perbukitan.
Di beberapa titik, terutama di daerah Kochi, kamu akan menemukan rute yang menanjak tajam dan menantang. Namun, justru di titik-titik inilah kamu bisa merasakan kesunyian sejati. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada sinyal ponsel—hanya angin, suara serangga, dan langkah kaki di tanah lembap.
“Ada keindahan yang hanya bisa kamu rasakan setelah berjalan jauh, keindahan yang tidak bisa diambil oleh kamera atau kata-kata,” tulis seorang blogger Jepang dalam catatan perjalanan Shikoku-nya.
Bagi wisatawan asing, bagian terbaik dari Shikoku Henro adalah bagaimana pengalaman ini memadukan wisata alam dan spiritual secara sempurna. Kamu bisa menginap di ryokan tradisional, menikmati kaiseki ryori khas daerah, lalu berjalan lagi ke kuil berikutnya di pagi hari yang berkabut.
Tokushima: Pintu Masuk Spiritualitas
Perjalanan biasanya dimulai di Tokushima, prefektur yang menjadi titik awal ziarah. Di sinilah kamu akan menemukan Kuil Ryozenji (Nomor 1), yang berdiri di tengah taman tenang dengan kolam koi dan pohon-pohon sakura.
Dari sini, kamu akan melanjutkan ke kuil-kuil lain yang berjarak beberapa kilometer satu sama lain, melewati jalan setapak dan desa kecil. Tokushima juga terkenal dengan Awa Odori, festival tari rakyat yang menggambarkan semangat hidup masyarakat Shikoku.
Meskipun banyak peziarah datang dengan niat religius, tidak sedikit juga wisatawan yang tertarik karena daya tarik budayanya. Di sepanjang jalan, kamu akan menemukan toko-toko kecil yang menjual jubah putih, topi jerami, dan tongkat ziarah—perlengkapan khas yang menjadi simbol perjalanan suci ini.
Kochi: Laut, Gunung, dan Keteguhan Hati
Memasuki prefektur Kochi, kamu akan merasakan perubahan lanskap yang dramatis. Jalanan mulai menanjak, pemandangan laut terbuka di satu sisi, sementara hutan dan gunung memagari sisi lain. Kuil-kuil di sini, seperti Kuil Kongofukuji (Nomor 38), berdiri di tepi tebing yang menghadap Samudra Pasifik.

Bagian Kochi dikenal sebagai segmen paling panjang dan menantang dari seluruh jalur ziarah. Banyak peziarah memilih beristirahat di minshuku, penginapan keluarga sederhana yang menawarkan kehangatan dan makanan rumahan.
Penduduk setempat di Kochi juga dikenal ramah terhadap para peziarah. Mereka sering memberikan osettai, yaitu bantuan sukarela seperti makanan, minuman, atau tumpangan gratis. Tradisi ini mencerminkan semangat saling tolong yang masih kuat di masyarakat pedesaan Jepang.
“Bertemu orang-orang yang baik di sepanjang jalan membuatku sadar, spiritualitas tidak hanya ada di kuil, tapi juga di hati manusia,” kata seorang peziarah dari Osaka yang saya temui di dekat Kuil 37.
Ehime: Tenang, Damai, dan Sarat Cerita Lama
Setelah Kochi, kamu akan masuk ke Ehime, prefektur yang dikenal dengan kastil indahnya dan sumber air panas alami. Di sini, suasana ziarah terasa lebih damai. Banyak kuil di Ehime dikelilingi pohon-pohon tua dan taman batu yang seakan menyimpan kisah masa lalu.
Salah satu kuil yang paling populer adalah Kuil Ishiteji (Nomor 51) di Matsuyama. Tempat ini menarik karena selain bernilai sejarah, juga menjadi pusat budaya setempat. Dari kuil ini, kamu bisa berjalan kaki menuju Dogo Onsen, pemandian air panas tertua di Jepang yang konon juga sering dikunjungi oleh para peziarah untuk beristirahat.
Bagi banyak orang, bagian perjalanan di Ehime ini menjadi titik refleksi. Setelah ratusan kilometer berjalan, tubuh terasa lelah, tapi hati mulai tenang. Banyak yang mengatakan, di sinilah makna sejati ziarah mulai terasa—bukan pada tujuan akhirnya, tapi pada ketenangan yang ditemukan di tengah perjalanan.
Kagawa: Menyentuh Akhir dan Awal yang Baru
Tahap terakhir dari ziarah ini adalah Prefektur Kagawa, rumah bagi Kuil Okuboji (Nomor 88) yang menjadi titik akhir perjalanan. Kuil ini terletak di kaki Gunung Nyotai dan sering diselimuti kabut, memberi kesan mistis yang menenangkan.
Saat mencapai kuil terakhir, banyak peziarah melakukan ritual “penutupan ziarah” dengan menulis doa dan persembahan terakhir. Namun menariknya, banyak juga yang kembali ke kuil pertama untuk “menyempurnakan lingkaran”, melambangkan bahwa perjalanan spiritual sebenarnya tidak pernah benar-benar berakhir.
Setelah menyelesaikan perjalanan ini, peziarah biasanya menerima sertifikat khusus atau kalung jimat sebagai simbol keberhasilan dan berkah. Namun bagi mereka yang pernah merasakannya, hadiah sesungguhnya adalah perubahan batin dan kedekatan yang mereka rasakan dengan Jepang yang sesungguhnya.
Menikmati Pesona Pedesaan dan Kehidupan Lambat di Shikoku
Selain jalur ziarahnya, Shikoku juga menawarkan atmosfer pedesaan Jepang yang nyaris hilang di kota-kota besar. Di banyak desa, kamu masih bisa melihat sawah yang dikelola dengan tangan, rumah-rumah kayu bergaya Edo, serta warung teh yang menyuguhkan matcha dan kue mochi hangat.

Di musim semi, bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan setapak. Sementara di musim gugur, daun-daun momiji berubah warna menjadi merah keemasan, menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Bagi fotografer dan penulis perjalanan, Shikoku adalah surga yang tenang.
“Shikoku membuatku merasa kembali pada esensi Jepang yang sederhana. Tidak glamor, tapi tulus dan apa adanya.”
Kamu juga bisa berinteraksi langsung dengan penduduk lokal yang masih memegang tradisi kuno. Beberapa di antara mereka membuka rumahnya untuk para ohenro-san, menyediakan tempat menginap gratis sebagai bentuk pengabdian spiritual.
Cara Menyusuri Jalur Ziarah Shikoku
Menyelesaikan seluruh 88 kuil dengan berjalan kaki biasanya memakan waktu sekitar 40 hingga 60 hari. Namun bagi wisatawan dengan waktu terbatas, kamu bisa memilih untuk mengunjungi sebagian rute saja.
Alternatifnya, ada juga paket wisata Shikoku Pilgrimage Bus Tour yang membawa peserta mengunjungi kuil-kuil utama dalam beberapa hari. Meskipun tidak seintens pengalaman berjalan kaki, tetap saja kamu bisa merasakan atmosfer spiritualnya.
Untuk peziarah yang lebih modern, tersedia aplikasi GPS dan peta digital yang memudahkan navigasi antar kuil. Namun, banyak orang justru sengaja memilih cara tradisional—mengandalkan papan petunjuk kayu dan peta kertas—sebagai bagian dari pengalaman otentik.
Shikoku sebagai Simbol keseimbangan modernitas dan spiritualitas
Shikoku bukan sekadar pulau kecil di barat Jepang. Ia adalah simbol bagaimana masyarakat Jepang menjaga keseimbangan antara modernitas dan spiritualitas. Di tengah dunia yang semakin cepat, Shikoku menawarkan ruang untuk berhenti, merenung, dan menghargai langkah demi langkah kehidupan.
Kamu mungkin datang untuk melihat kuil, tapi akan pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih dalam: rasa tenang yang lahir dari keheningan dan keramahan manusia.
“Perjalanan ke Shikoku bukan tentang mencari Tuhan, melainkan tentang menemukan dirimu sendiri di setiap langkah yang diambil.”

