Kalau kamu membayangkan tahun baru selalu identik dengan kembang api dan pesta sampai pagi, Jepang itu punya vibe yang beda. Di sana, Oshogatsu atau Shogatsu adalah momen paling “pulang ke rumah”, paling “beresin hati”, dan paling “mulai ulang” versinya orang Jepang. Suasananya bisa ramai di kuil, tapi di saat yang sama kota terasa mendadak tenang, toko banyak yang tutup, dan orang lebih fokus ke keluarga, tradisi, dan keberuntungan tahun yang baru.
Kenapa Shogatsu di Jepang terasa “besar banget”
Shogatsu itu bukan sekadar pergantian kalender. Ini libur utama yang bikin ritme hidup Jepang berubah total, dari pekerja kantoran sampai anak sekolah. Banyak orang mudik ke kampung halaman, kumpul keluarga, dan menikmati beberapa hari yang niatnya memang untuk istirahat dan merayakan awal tahun dengan cara yang lebih “rapi” dan penuh simbol.
Libur panjang yang bikin kota terasa “sunyi elegan”
Menjelang 1 Januari, kamu bisa merasakan perubahan suasana. Area bisnis yang biasanya padat mendadak lebih lengang. Banyak tempat tutup atau jam operasional dipendekin. Malam tahun baru di Jepang juga sering terasa lebih “khidmat” daripada “heboh”, karena fokusnya bukan pesta jalanan, tapi ritual dan kebiasaan keluarga. Gambaran “tenang tapi hidup” ini sering jadi alasan kenapa banyak fans jejepangan pengin ngerasain Shogatsu langsung di sana.

Ada konsep menyambut “tamu penting” bernama Toshigami
Di balik dekorasi dan kebiasaan Shogatsu, ada ide soal menyambut dewa tahun baru, sering disebut Toshigami, yang dipercaya membawa berkah dan keberuntungan. Karena itu, rumah dan pintu masuk “didandani” dengan ornamen tertentu, bukan sekadar hiasan estetik. Ada shimekazari, kadomatsu, dan kagami mochi yang masing masing punya makna penyambutan dan pemurnian.
Pemanasan sebelum 31 Desember: bersih bersih, kartu ucapan, dan belanja khas Shogatsu
Shogatsu itu unik karena persiapannya justru jadi bagian penting dari perayaannya. Banyak hal dilakukan sebelum tanggal 31, dan rasanya seperti ritual “nge set ulang” rumah dan hidup, pelan pelan tapi niat.

Ōsōji, tradisi bersih bersih besar yang bukan cuma urusan debu
Ōsōji artinya kurang lebih “pembersihan besar”. Menjelang akhir tahun, keluarga di Jepang biasanya beres beres rumah lebih serius dari bersih mingguan biasa. Idenya bukan cuma rapihin barang, tapi juga menutup tahun dengan kondisi rumah yang bersih dan siap “menerima” tahun baru. Bahkan ada keyakinan bahwa bersih bersih pada hari tahun baru itu dihindari karena bisa dianggap “menyapu” keberuntungan yang baru datang.
Nengajo, kartu ucapan yang harus tepat waktu biar kerasa “Jepang banget”
Kalau kamu suka budaya surat menyurat Jepang, Nengajo itu salah satu yang paling ikonik. Bedanya dengan kartu ucapan di banyak negara, Nengajo idealnya sampai tepat pada 1 Januari. Jepang punya sistem pos yang memang mengatur periode penerimaan khusus agar kartu bisa didistribusikan serentak di hari tahun baru. Buat fans jejepangan, ini detail kecil yang bikin tradisi terasa rapi, disiplin, tapi juga hangat.
Belanja Shogatsu: dari mochi sampai ornamen pintu rumah
Mendekati akhir Desember, banyak orang mulai menyiapkan makanan khas Shogatsu seperti osechi dan bahan ozoni, sekaligus dekorasi seperti kagami mochi dan shimekazari. Ada juga “aturan rasa tradisional” soal kapan sebaiknya dekor dipasang, misalnya banyak panduan menyebut dekor idealnya sudah terpasang sebelum tanggal 31 agar tidak dianggap “dadakan semalam”.
Ōmisoka, malam 31 Desember: tahun baru versi Jepang yang lebih ritual daripada pesta
Malam tahun baru di Jepang dikenal sebagai Ōmisoka. Ini momen transisi yang rasanya pelan tapi penuh tanda, mulai dari makanan terakhir di tahun itu sampai bunyi lonceng kuil yang ikonik banget di budaya Jepang.
Toshikoshi soba, mie “panjang umur” yang dimakan sebelum tengah malam
Salah satu kebiasaan paling populer adalah makan toshikoshi soba, soba yang dimakan di malam pergantian tahun. Simbolnya biasanya dikaitkan dengan harapan umur panjang dan “melepas” hal buruk tahun lalu. Banyak keluarga makan sederhana di rumah, tapi di beberapa tempat kamu juga bisa menemukan soba hangat sebagai menu musiman yang rasanya pas banget buat musim dingin.

Joya no Kane, 108 kali lonceng yang bikin merinding tapi adem
Kalau kamu pernah lihat adegan tahun baru di anime atau dorama yang menampilkan kuil membunyikan lonceng besar, itu Joya no Kane. Banyak kuil Buddha membunyikan lonceng 108 kali, yang sering dijelaskan sebagai simbol “membersihkan” 108 nafsu duniawi atau bonno, supaya masuk tahun baru dengan hati lebih tenang. Di beberapa lokasi, pengunjung juga kadang bisa ikut merasakan pengalaman membunyikan lonceng, tentu dengan aturan setempat.
Kohaku Uta Gassen dan budaya “nonton bareng” sebelum tengah malam
Di rumah rumah Jepang, malam 31 juga identik dengan program musik tahunan NHK, Kohaku Uta Gassen, yang tayang tiap malam tahun baru dan jadi semacam ritual pop culture. Bahkan orang yang tidak mengikuti idol sekalipun sering paham “ini acara wajib tanggal 31”, karena sudah mengakar lama.
Pagi 1 Januari: tradisi “yang pertama” dimulai dari matahari sampai doa
Tanggal 1 Januari di Jepang itu rasanya seperti halaman baru yang benar benar diperlakukan sebagai awal. Banyak kebiasaan berlabel “hatsu” yang berarti pertama, dan semuanya terasa seperti cara halus untuk bilang, “oke, kita mulai yang bener”.
Hatsuhinode, berburu matahari pertama dengan perasaan campur aduk
Hatsuhinode adalah melihat matahari terbit pertama di tahun baru. Ada yang naik bukit, ke pantai, atau cari spot tinggi di kota. Buat sebagian orang, ini bukan sekadar foto cantik, tapi momen reflektif versi Jepang yang tidak harus pakai kata kata berat. Kamu berdiri, napas keliatan karena dingin, langit pelan pelan terang, lalu orang biasanya saling mengucap selamat tahun baru.
Hatsumode, kunjungan pertama ke kuil atau shrine yang super ramai
Hatsumode adalah kunjungan pertama di tahun baru ke shrine Shinto atau kuil Buddha untuk berdoa. Ini salah satu pemandangan Shogatsu yang paling “Jepang banget”: antrean panjang, suara lonceng kecil, asap dupa di kuil Buddha, dan orang orang yang niat minta kesehatan, rezeki, dan keselamatan. JNTO juga menyorot hatsumode sebagai tradisi utama tahun baru di Jepang.

Omikuji, omamori, dan hal hal kecil yang bikin kunjungan makin seru
Buat fans jejepangan, bagian paling nagih dari hatsumode sering justru detailnya. Ambil omikuji untuk ramalan keberuntungan, beli omamori sebagai jimat, atau menulis ema. Kalau dapat ramalan kurang bagus, kamu biasanya bisa mengikat kertas omikuji di area yang disediakan, semacam gesture “yang buruk ditinggal di sini saja”. Nuansa seperti ini yang bikin pengalaman terasa personal, meski kamu datang sebagai turis.
Makanan Shogatsu: dari osechi yang cantik sampai ozoni yang bikin hangat
Kalau ada satu hal yang membuat Shogatsu terasa lengkap, jawabannya makanan. Jepang punya “menu tahun baru” yang bukan cuma enak, tapi juga penuh simbol dan cerita keluarga.
Osechi ryori, kotak bertingkat yang isinya harapan tahun baru
Osechi ryori adalah set hidangan tahun baru yang disusun dalam kotak bertingkat bernama jubako. Isinya beragam, dari manis, asin, sampai yang teksturnya unik, dan banyak item punya makna keberuntungan.
Kalau kamu suka detail, beberapa contoh yang sering disebut antara lain kuromame, kacang hitam yang sering diasosiasikan dengan harapan sehat dan rajin, kazunoko, telur ikan herring yang sering dikaitkan dengan keturunan berlimpah, lalu tazukuri atau varian ikan kecil kering, yang punya citra keberuntungan terkait hasil panen. Web Japan membahas contoh contoh isi osechi yang umum dan perbedaan regional seperti Kanto dan Kansai.
Ozoni, sup mochi yang bisa beda total antar daerah
Selain osechi, ada ozoni, sup tahun baru yang biasanya berisi mochi dan komponen lain seperti sayur atau protein. Yang seru, ozoni itu sangat regional. Ada yang kuahnya bening, ada yang miso, ada yang mochinya dipanggang dulu, ada juga yang dimasak langsung. Buat fans jejepangan, ini tipe makanan yang bikin kamu sadar Jepang itu “satu negara, banyak dapur”. JNTO juga menyebut zoni sebagai salah satu makanan tradisi Shogatsu.
Kagami mochi, hiasan yang akhirnya dimakan juga
Kagami mochi adalah dekorasi mochi bertumpuk yang jadi simbol tahun baru. Banyak sumber budaya Jepang menjelaskan bahwa ini bukan sekadar pajangan lucu, tapi punya makna auspicious di bagian bagiannya. Ada tradisi terkait kapan dekor dipasang dan kapan diturunkan, yang menambah rasa “ada aturannya, tapi tetap hangat”.
Salam dan hadiah: cara orang Jepang bilang “selamat” dengan versi mereka sendiri
Selain makanan dan kunjungan ke kuil, Shogatsu juga penuh momen sosial. Ada ucapan khas, ada hadiah untuk anak, dan ada etika kecil yang bikin semuanya terasa rapi.

Otoshidama, amplop kecil yang bikin anak Jepang senyum lebar
Otoshidama adalah tradisi memberi uang kepada anak anak dalam amplop kecil. Buat keluarga, ini momen yang ditunggu, dan buat orang dewasa, ini juga ritual tahunan yang diam diam bikin mikir, “tahun ini ngasih berapa ya”. Tradisi ini dikenal luas sebagai bagian dari tahun baru Jepang.
Ucapan yang sering kamu dengar: “Akemashite omedetou” dan teman temannya
Ucapan paling umum adalah akemashite omedetou gozaimasu, selamat tahun baru, lalu sering disambung kotoshi mo yoroshiku onegaishimasu, semacam “mohon kerja samanya tahun ini juga”. Ini sering dipakai ke teman, rekan kerja, bahkan keluarga, dan rasanya khas Jepang karena ada unsur menjaga hubungan baik. Nuansanya sopan tapi bisa dibuat santai tergantung kedekatan.
Nengajo itu bukan cuma kartu, tapi juga “jembatan” relasi
Banyak orang Jepang memakai nengajo untuk menyapa orang yang jarang ketemu tapi tetap ingin dijaga hubungannya. Karena targetnya sampai 1 Januari, ada rasa “niat” yang beda dibanding kartu yang dikirim santai tanpa tanggal pasti. Detail soal periode penerimaan pos untuk nengajo juga jadi bagian menarik dari tradisi ini.
Hatsuuri dan Fukubukuro: tahun baru juga waktunya berburu belanja
Setelah momen keluarga dan ritual kuil, Jepang punya tradisi lain yang sering bikin turis ikut kebawa semangat, yaitu first sale dan lucky bag.
Fukubukuro, kantong keberuntungan yang isinya misteri
Fukubukuro secara harfiah sering dipahami sebagai “tas keberuntungan”. Toko menjual paket berisi barang acak dengan harga lebih menarik daripada total nilainya. Karena isinya kejutan, vibe nya seperti gacha dunia nyata, tapi versi retail.
Tips biar tidak zonk saat ikutan lucky bag
Kalau kamu niat ikutan, biasanya yang laris itu brand populer dan department store, jadi antrean bisa panjang. Banyak orang mempelajari pola isi fukubukuro brand tertentu dari tahun tahun sebelumnya, atau memilih toko yang memang sesuai kebutuhan biar tidak berakhir dengan barang yang tidak kepakai. Yang paling penting, anggap ini pengalaman budaya pop Jepang, bukan sekadar “diskon”.
Shogatsu rasa jejepangan banget
Kalau kamu memburu Shogatsu sebagai pengalaman, bukan cuma tanggal, ada beberapa momen yang biasanya terasa “klik” untuk fans jejepangan. Ini bukan checklist wajib, tapi lebih ke ide biar kamu bisa merasakan tahun baru Jepang dengan versi yang kamu suka.
Ikut suasana hatsumode di shrine besar, atau cari yang lokal biar lebih intimate
Shrine besar terkenal memang ikonik karena lautan manusia dan atmosfer meriah. Tapi shrine lokal juga punya pesona: lebih tenang, lebih terasa “warga banget”, dan kamu bisa memperhatikan detail seperti cara orang berdoa, penataan area omikuji, sampai suara langkah di kerikil yang khas.
Memburu hatsuhinode yang sesuai gaya kamu, romantis atau praktis
Kalau kamu tipe yang suka cinematic, cari spot pantai atau viewpoint. Kalau kamu tipe praktis, cukup keluar pagi, cari horizon yang kebuka, lalu nikmati momen terang pertama. Intinya bukan lokasi “terbaik”, tapi rasa “pertama kali melihat pagi di tahun yang baru”.
Menyicip osechi modern yang sekarang banyak dijual siap santap
Sekarang osechi tidak selalu harus buatan rumah. Banyak keluarga membeli osechi siap santap dari supermarket atau department store, karena praktis dan variasinya banyak. Ini juga menarik buat turis: kamu bisa coba beberapa item osechi tanpa harus paham masaknya.
Catatan kecil yang sering bikin turis kaget saat tahun baru di Jepang
Biar pengalamanmu tidak “kok beda dari ekspektasi”, ada beberapa hal yang sering terjadi saat Shogatsu, dan justru itulah ciri khasnya.
Pertama, jangan heran kalau banyak toko tutup, terutama tanggal 1 dan kadang lanjut beberapa hari, jadi urusan makan dan transport itu perlu sedikit antisipasi. Kedua, tempat ibadah bisa sangat ramai saat hatsumode, jadi siapkan diri untuk antre panjang tapi tetap tertib. Ketiga, tahun baru Jepang itu lebih banyak momen tenang daripada momen heboh, jadi kalau kamu menikmati suasana yang pelan, wangi dupa, udara dingin, dan bunyi lonceng di kejauhan, justru kamu sedang berada di “inti” Shogatsu itu sendiri.

