Di Jepang, kata karoshi bukan sekadar istilah sosial. Ia adalah label hukum, label medis, sekaligus label duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Karoshi merujuk pada kematian mendadak terkait kerja berlebihan, biasanya akibat serangan jantung atau stroke yang dipicu kombinasi jam kerja panjang, tekanan kronis, kurang tidur, dan pemulihan yang nyaris tidak ada. Di titik tertentu, tubuh berhenti bernegosiasi.
Karoshi, istilah yang lahir dari ruang kerja Jepang
Karoshi sering diterjemahkan sebagai “death from overwork”. Istilah ini berkembang sejak dekade 1970-an, ketika kasus kematian mendadak pekerja mulai dibicarakan sebagai pola, bukan insiden tunggal. Organisasi Perburuhan Internasional mencatat karoshi sebagai fenomena yang dikenal luas di Jepang, dan menempatkannya dalam konteks risiko kesehatan kerja akibat jam kerja berlebih.
Di balik satu kata itu, ada dua pintu masuk yang berbeda. Pertama, kematian atau gangguan kesehatan serius akibat penyakit otak dan jantung yang dikaitkan dengan beban kerja. Kedua, kematian yang terjadi lewat bunuh diri karena gangguan mental yang dipicu pekerjaan, yang di Jepang juga dikenal sebagai karojisatsu. Reuters pernah merangkum pengakuan resmi pemerintah Jepang bahwa karoshi secara umum mencakup dua kategori besar tersebut: kematian terkait penyakit kardiovaskular dan bunuh diri akibat tekanan mental terkait kerja.
Ketika jam kerja memotong jam tidur
Membahas karoshi tanpa membahas tidur sama seperti membahas kebakaran tanpa menyebut sumber panas. Pada banyak kasus, jam kerja panjang bukan hanya membuat orang lelah, tetapi mengubah ritme biologis, memperpendek fase pemulihan, lalu menumpuk stres yang tidak sempat “turun” dari hari ke hari.
Pada skala global, WHO dan ILO mempublikasikan estimasi bahwa bekerja sangat lama berhubungan dengan kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik. Dalam rilis bersama, WHO menyebut kerja panjang berkontribusi pada 745.000 kematian pada 2016, dengan definisi paparan bekerja setidaknya 55 jam per minggu.
Angka global itu penting untuk menunjukkan satu hal: karoshi bukan mitos budaya yang “hanya terjadi di Jepang”. Namun Jepang menjadi simbol karena istilahnya, karena perdebatan hukumnya, dan karena sejumlah kasus besar memaksa negara mengakui bahwa kerja dapat menjadi penyebab kematian.
“Garis karoshi” dan bagaimana negara mendefinisikan risiko
Dalam pembahasan publik Jepang, ada istilah populer yang sering muncul: batas 80 jam lembur dalam sebulan, yang disebut sebagai “garis karoshi”. Nippon.com menulis bahwa dalam standar kecelakaan kerja, lembur 80 jam per bulan dikenal sebagai patokan yang dikaitkan dengan risiko karoshi.

Patokan ini tidak berarti setiap orang yang lembur 80 jam pasti akan mengalami karoshi. Ia lebih sering dipakai sebagai sinyal bahaya, terutama ketika disertai faktor lain: kerja malam berulang, kerja akhir pekan, konflik di kantor, tekanan target, atau perundungan di tempat kerja. Dalam praktik investigasi, angka lembur juga kerap menjadi medan sengketa karena persoalan pencatatan jam kerja, status jabatan “semi manajerial”, atau budaya kerja yang membuat orang tetap “siaga” meski tidak tercatat sebagai lembur.
Kisah yang mengguncang Jepang: kasus Matsuri Takahashi
Satu nama yang berulang kali disebut ketika Jepang membahas karoshi adalah Matsuri Takahashi. Ia karyawan muda di perusahaan periklanan besar Dentsu. Ia meninggal pada akhir 2015, dan kasusnya memicu gelombang kemarahan publik serta sorotan tajam pada lembur ekstrem.
Dalam laporan Reuters, ringkasan dari pengacara keluarga mengutip temuan bahwa Takahashi mencatat 105 jam lembur pada Oktober 2015 dan kemudian jatuh ke depresi pada bulan berikutnya.
Nippon.com juga mencatat bahwa Kementerian Tenaga Kerja mengakui kasus Takahashi sebagai karoshi pada September 2016, membuat isu ini semakin politis karena pengakuan resmi berarti negara mengakui hubungan sebab-akibat antara kerja dan kematian.
Kasus seperti ini mengubah cara masyarakat melihat “ketahanan” di kantor. Yang sebelumnya dianggap bukti loyalitas, mendadak dipertanyakan sebagai kelalaian sistemik. Dalam banyak pemberitaan, tragedi ini menjadi titik balik yang mendorong reformasi jam kerja dan pengawasan lembur di perusahaan besar.
Apa yang terlihat di statistik resmi, dan apa yang tidak terlihat
Satu masalah klasik ketika membahas karoshi adalah jarak antara kasus yang terjadi dan kasus yang “diakui”. Di Jepang, ada jalur kompensasi kecelakaan kerja dan pengakuan resmi yang membutuhkan bukti hubungan kerja, bukti beban kerja, serta evaluasi medis dan administratif. Karena prosesnya berat, angka resmi sering dibaca sebagai puncak gunung es.
Namun angka resmi tetap memberi gambaran arah. Berdasarkan ringkasan White Paper 2024 tentang pencegahan karoshi, Nippon.com melaporkan 883 kasus gangguan mental terkait kerja yang diakui, naik tajam dan menjadi rekor. Dari jumlah itu, 79 terkait bunuh diri dan percobaan bunuh diri. White Paper yang sama juga mencatat 216 kasus penyakit otak dan jantung terkait kerja yang diakui, melampaui 200 untuk pertama kalinya dalam empat tahun.
Di balik angka tersebut, ada dinamika yang sering luput: semakin banyak orang yang berani mengajukan klaim, semakin banyak keluarga yang menuntut pengakuan, dan semakin banyak perusahaan yang tidak bisa lagi menyelesaikan kasus semata lewat permintaan maaf internal.
Karojisatsu, bunuh diri yang diproses sebagai kecelakaan kerja
Di Jepang, bunuh diri akibat tekanan kerja tidak selalu dibahas sebagai isu kesehatan mental saja, tetapi juga bisa masuk kategori kecelakaan kerja bila terbukti terkait pekerjaan. Jalur ini membuat kasus bunuh diri menjadi ranah medis sekaligus ranah hukum.
Studi dan laporan lembaga terkait ketenagakerjaan Jepang menunjukkan bahwa kompensasi untuk gangguan mental terkait kerja, termasuk kasus bunuh diri, merupakan bagian penting dari pembahasan karoshi modern. Dokumen Japan Labor Issues membahas tren kompensasi gangguan mental terkait kerja, termasuk kasus bunuh diri yang diakui sebagai kecelakaan kerja, dan menunjukkan bahwa isu ini bukan kasus sporadis.
Dalam banyak kasus, pemicunya bukan hanya jam kerja panjang, tetapi juga gabungan faktor: target yang mustahil, konflik relasi dengan atasan, penilaian kinerja yang menghukum, mutasi mendadak, serta apa yang di Jepang dikenal sebagai power harassment.
Undang-undang pencegahan karoshi, pengakuan negara bahwa ini krisis
Jepang bukan hanya menamai fenomenanya, tetapi juga membuat kerangka kebijakan untuk menanganinya. Ada undang-undang yang secara eksplisit ditujukan untuk mendorong pencegahan “kematian dan cedera akibat kerja berlebihan”.
Terjemahan resmi hukum Jepang menyebut Act Promoting Measures to Prevent Death and Injury from Overwork sebagai upaya negara untuk mempromosikan riset, pengelolaan informasi, dan langkah-langkah pencegahan demi “masyarakat tanpa kematian dan cedera akibat kerja berlebihan”.
Undang-undang ini penting secara simbolik karena mengubah narasi. Ia menempatkan karoshi bukan sebagai “nasib buruk pekerja”, melainkan sebagai persoalan sosial yang menuntut tanggung jawab lintas pihak: pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
Batas lembur dalam reformasi gaya kerja, dan celah yang masih diperdebatkan
Reformasi besar yang sering disebut adalah pembaruan aturan jam kerja dan batas lembur. Pemerintah Jepang melalui Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan mempublikasikan ringkasan reformasi yang menetapkan batas lembur pada prinsipnya 45 jam per bulan dan 360 jam per tahun, serta memperkenalkan plafon yang lebih ketat dalam situasi khusus: total 720 jam per tahun, kurang dari 100 jam dalam sebulan (termasuk kerja saat hari libur), dan rata-rata 80 jam per bulan untuk beberapa bulan berturut-turut dalam kondisi khusus.

Di atas kertas, ini terlihat seperti rem. Tetapi perdebatan muncul pada kata-kata “kondisi khusus” dan bagaimana perusahaan membingkai “situasi sibuk” sebagai hal yang normal. Bagi aktivis buruh dan keluarga korban, pembatasan yang masih membuka ruang sampai mendekati 100 jam sebulan dianggap menyisakan risiko serius, terutama bagi pekerja muda yang belum punya kontrol atas beban kerja.
Kenapa orang tetap lembur, bahkan saat tahu itu berbahaya
Ada pertanyaan yang sering muncul dalam liputan tentang karoshi: mengapa tidak berhenti saja. Jawabannya jarang sederhana, karena banyak faktor bekerja sekaligus.
Pertama, budaya organisasi yang menilai “kehadiran” sebagai komitmen. Di sebagian kantor, pulang tepat waktu bisa dibaca sebagai tidak ambisius, tidak solid, atau tidak siap memikul tanggung jawab. Kedua, struktur kerja yang menumpuk tugas pada tim kecil, terutama ketika perusahaan menekan biaya dengan tenaga kerja terbatas. Ketiga, status pekerjaan yang rapuh, termasuk pekerja kontrak atau pekerja muda yang takut dicap “tidak tahan banting”.
Keempat, cara kerja modern yang membuat jam kerja “merembes”. Rapat malam, pesan kerja di luar jam kantor, pekerjaan rumah yang dianggap fleksibilitas, semuanya bisa menambah beban tanpa terlihat di kartu absensi. Inilah kenapa dalam beberapa kasus karoshi, perdebatan bergeser ke soal pencatatan jam kerja dan transparansi manajemen.
Industri berisiko, bukan hanya soal kantor bergengsi
Karoshi sering diasosiasikan dengan kantor besar di pusat kota. Padahal, risiko tersebar di banyak sektor. Dalam pembahasan White Paper dan analisis media Jepang, sektor seperti informasi dan komunikasi, riset dan layanan profesional, serta transportasi dan pos kerap disebut memiliki proporsi tinggi pekerja yang melewati batas lembur berbahaya.
Sektor transportasi menjadi contoh jelas: tuntutan ketepatan waktu, jadwal bergilir, dan kerja malam menciptakan kombinasi yang menggerus kesehatan. Di layanan kesehatan, persoalan jam jaga panjang juga menjadi sorotan karena dokter dan residen dapat mengalami beban kerja yang ekstrem, dan Jepang bahkan membahas regulasi khusus jam kerja dokter dalam reformasi terpisah.
Ketika keluarga berhadapan dengan kematian yang “tidak wajar tapi legal”
Bagi keluarga korban, karoshi sering terasa seperti dua kali kehilangan. Pertama, kehilangan orang yang dicintai. Kedua, kehilangan kepastian, karena proses pengakuan bisa lama, melelahkan, dan penuh detail administratif.
Jalur kompensasi biasanya memerlukan bukti jam kerja, bukti beban tugas, catatan medis, dan kronologi. Di banyak kasus, keluarga harus mengumpulkan jejak digital: surel kerja, log komunikasi, rekaman akses gedung, data komputer kantor, hingga kesaksian rekan kerja. Ketika perusahaan kooperatif, proses bisa lebih terang. Ketika perusahaan defensif, keluarga bisa masuk ke proses panjang yang menuntut pendampingan hukum.
Pada tahap ini, karoshi bukan lagi berita tentang “budaya kerja Jepang”, melainkan berita tentang relasi kuasa di tempat kerja: siapa yang punya akses pada data, siapa yang berhak bercerita, dan siapa yang harus membuktikan penderitaan.
Perusahaan, hotline, dan perubahan yang berjalan pelan
Reformasi regulasi mendorong sebagian perusahaan menata ulang manajemen jam kerja, mengurangi rapat yang tidak perlu, dan memperkuat dukungan kesehatan mental. Tetapi perubahan budaya biasanya lebih lambat daripada perubahan aturan.
Di sisi lain, negara juga mendorong kanal pelaporan dan konsultasi. Dalam beberapa laporan media internasional, hotline keluhan dan inspeksi ketenagakerjaan menjadi bagian dari upaya membuat pelanggaran jam kerja lebih mudah terdeteksi, terutama ketika lembur tidak dibayar atau jam kerja “disamarkan” lewat status jabatan.
Pada titik ini, karoshi menjadi barometer: ketika angka pengakuan klaim naik, bisa berarti dua hal sekaligus. Bisa berarti kondisi kerja memburuk, atau bisa berarti korban dan keluarga makin berani menuntut pengakuan. Dalam realitas sosial, keduanya sering terjadi bersamaan.
Tanda yang sering muncul sebelum karoshi terjadi
Ada pola yang berulang dalam banyak kisah korban: penurunan berat badan, insomnia, perubahan emosi drastis, hilang minat pada hal yang sebelumnya disukai, mudah marah atau mudah menangis, serta keluhan fisik yang dianggap sepele seperti pusing berkepanjangan dan nyeri dada.
Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi. Ketika seseorang mulai menganggap tidur empat jam sebagai “cukup”, mulai menganggap akhir pekan sebagai “waktu menyusul kerja”, atau mulai merasa bersalah saat mengambil cuti, saat itu tubuh sebenarnya sudah diberi beban yang tidak wajar.
Dalam konteks karojisatsu, tanda bisa berupa ucapan putus asa yang terkesan bercanda, menarik diri dari keluarga, atau mulai menulis pesan yang bernada pamit. Dalam sejumlah kasus besar, korban sempat meninggalkan catatan, pesan singkat, atau unggahan yang kemudian dibaca ulang keluarga sebagai sinyal yang terlambat dipahami.
Cara banyak pekerja Jepang mencoba menyelamatkan diri tanpa terlihat “melawan”
Tidak semua orang bisa langsung resign. Banyak pekerja memilih strategi yang lebih “sunyi” agar tidak memicu konflik terbuka, tetapi tetap memberi ruang napas.
Sebagian mulai dengan meminta pembagian tugas lebih realistis, bukan sebagai protes, melainkan sebagai usulan efisiensi. Sebagian lain mengumpulkan data jam kerja pribadi, menyimpan bukti rapat, menyimpan log pekerjaan, karena mereka sadar bukti adalah pelindung bila suatu saat perlu mengajukan klaim. Ada pula yang berkonsultasi ke layanan kesehatan kerja, atau meminta rotasi tim dengan alasan kesehatan.
Di sini terlihat satu ironi: pekerja yang paling berisiko sering adalah pekerja yang paling patuh, paling ingin memenuhi ekspektasi, dan paling sulit mengatakan “cukup”. Karoshi tumbuh subur di tempat kerja yang memuja ketahanan, tetapi tidak menyediakan rem.
Karoshi sebagai cermin: kerja seharusnya tidak berujung kematian
Jepang mungkin yang paling dikenal karena istilah karoshi, tetapi pelajarannya melampaui batas negara. Ketika WHO dan ILO menyebut kerja panjang berkaitan dengan ratusan ribu kematian global, pesan yang muncul adalah sederhana dan keras: jam kerja bukan hanya isu produktivitas, melainkan isu keselamatan.
Karoshi membuat satu hal jadi terang: kematian akibat kerja berlebihan tidak datang sebagai drama besar di satu hari, melainkan sebagai akumulasi hari-hari yang dianggap biasa. Dan sering kali, yang paling berbahaya bukan kerja keras itu sendiri, melainkan sistem yang membuat orang tidak bisa berhenti bahkan ketika tubuh sudah meminta pulang.

