Setelah lama dikenal lewat romansa remaja yang terasa hangat tapi tetap menggigit, Robico, kreator Tonari no Kaibutsu kun, kembali membuat kejutan dengan langkah yang tidak biasa. Bukan cuma satu, ia memulai dua manga baru hampir berdekatan waktunya, dan keduanya punya rasa yang berbeda jauh dari citra karya lamanya. Satu judul mengarah ke kisah manusia dan makhluk aneh dalam format cerita berseri pendek, sementara satu lagi memilih jalur komedi romantis ringkas dengan bumbu dunia lain.
“Saya suka ketika seorang mangaka tidak mengulang formula yang sudah aman. Robico seperti sengaja menantang pembacanya untuk melihat sisi lain dari dirinya.”
Dua proyek Manga sekaligus, Robico memulai “Yuuyami to Kataware” dan “Maou sama Kekkon desu!”

Informasi soal dua serial baru ini menguat lewat pengumuman Robico sendiri, termasuk keterangan bahwa ia menjalankan dua serial secara bersamaan: Yuuyami to Kataware dan Maou sama Kekkon desu!
Yang menarik, keduanya tidak berbagi genre yang sama. Yuuyami to Kataware bergerak di ranah kisah manusia dan “kaiki” atau makhluk aneh, dengan nuansa suspense dan hubungan yang cenderung ganjil tapi intim. Sementara Maou sama Kekkon desu! justru condong ke romcom singkat, memanfaatkan premis yang ringan dan cepat dibaca.
Perbedaan rasa ini terasa seperti pernyataan: Robico tidak ingin “dipasung” oleh label romantis sekolah semata. Ia membawa pembacanya ke wilayah yang lebih liar, sekaligus tetap menjaga ciri khasnya dalam membangun interaksi karakter.
“Kalau dua judul baru ini berhasil, Robico tidak hanya kembali, tapi kembali dengan dua wajah yang sama sama kuat.”
“Yuuyami to Kataware” dimulai Manga di Monthly Young Magazine, Robico masuk medan cerita dewasa
Judul pertama, Yuuyami to Kataware, memulai serialisasi di Monthly Young Magazine milik Kodansha pada 19 Februari 2026.
Ini penting karena menandai langkah Robico ke wilayah publikasi yang berbeda dari citra shoujo yang melekat pada namanya. Banyak pembaca mengenalnya dari Dessert dan romansa yang intens, tetapi kali ini ia tampil di majalah seinen dengan pendekatan yang terasa lebih gelap, lebih aneh, dan lebih “sunyi” dalam membangun tensi.
Di sisi platform digital, judul ini juga tampil di YanMaga Web, yang menggambarkan seri tersebut sebagai kumpulan kisah pendek berseri tentang pertemuan “kataware” antara manusia dan makhluk aneh.
“Saya sudah bisa membayangkan seri ini akan lebih banyak bermain pada suasana dan tatapan, bukan sekadar dialog manis.”
Formatnya “rensaku tanpenshu” yang membuat tiap kisah terasa seperti luka kecil
Salah satu daya tarik Yuuyami to Kataware adalah formatnya yang disebut sebagai rensaku tanpenshu, kurang lebih kumpulan cerita pendek berseri yang terhubung lewat tema pertemuan pasangan “kataware”.
Model seperti ini memberi ruang untuk dua hal sekaligus. Pertama, Robico bisa mengeksplor berbagai jenis hubungan yang tidak normal dalam definisi sosial, tanpa harus memaksa semuanya menjadi satu alur besar. Kedua, pembaca bisa masuk dari berbagai pintu cerita, karena tiap kisah berpotensi berdiri sendiri namun tetap terasa satu dunia.
Yang sudah dibuka ke publik, kisah pertamanya menampilkan situasi yang kuat secara visual: seorang pria “bermasalah” yang berada di jembatan, lalu bertemu gadis SMA yang mengaku vampir. Dari titik itu, hubungan aneh mulai terbentuk.
“Saya paling suka cerita yang berani menaruh pertemuan karakter di tempat yang ekstrem. Di situ kita langsung paham bahwa ini bukan romansa yang sopan.”
Dari oneshot jadi serial Manga, Robico mengubah respons pembaca menjadi seri penuh
Media Jepang juga menyebut bahwa Yuuyami to Kataware lahir dari cerita one shot yang pernah dimuat dan mendapat respons bagus, lalu dikembangkan menjadi serial.
Manga Ini menarik karena menunjukkan dua hal. Ada bukti bahwa konsepnya bekerja, dan ada kepercayaan editorial untuk memberi ruang lebih panjang. Selain itu, one shot yang kuat biasanya punya “pukulan” tema yang jelas, jadi ketika berkembang menjadi serial, tantangannya adalah menjaga pukulan itu tetap terasa tanpa mengulang trik yang sama.
Dengan format cerita pendek berseri, potensi repetisi bisa ditekan, karena Robico dapat mengganti pasangan, mengganti jenis makhluk aneh, bahkan mengganti moral cerita, sambil tetap mempertahankan benang merah “dua yang saling mengisi”.
“Maou sama Kekkon desu!” rilis di Our Feel, romcom singkat dengan bumbu isekai dan “konkatsu”

Judul Manga kedua, Maou sama Kekkon desu!, dijadwalkan mulai 5 Maret 2026 di platform OUR FEEL, dan Robico sendiri menyebutnya sebagai short love comedy yang “cepat dibaca”.
Manga Di sini arahnya jelas berbeda dari Yuuyami. Jika Yuuyami terasa seperti kisah gelap yang pelan dan merayap, Maou sama Kekkon desu! tampil sebagai seri yang bisa menghibur dengan tempo cepat.
Robico juga menuliskan gambaran singkat bahwa seri ini membawa kombinasi dunia lain dan konkatsu atau “pencarian pasangan untuk menikah”, dengan rasa romcom yang ringkas.
“Konsep maou dan pencarian jodoh itu lucu karena bertabrakan. Yang satu identik dengan dominasi, yang satu identik dengan canggung dan salah tingkah.”
Mengapa OUR FEEL jadi panggung yang pas untuk eksperimen Robico
OUR FEEL dikenal sebagai label manga untuk pembaca perempuan dengan positioning emosional yang kuat. Dalam pengumuman editorial mereka, OUR FEEL juga aktif mendorong gelombang serial baru pada 2026, termasuk menyebut proyek baru Robico yang dijadwalkan mulai Maret.
Untuk Robico, ini terasa pas karena ia punya kemampuan menulis relasi yang “ngeselin tapi bikin penasaran”. Di tangan kreator yang tepat, romcom ringkas tidak harus dangkal. Ia bisa tajam, cepat, dan tetap punya gigitan karakter.
Dan karena ia menyebut formatnya “sakutto yomeru”, ada kemungkinan strukturnya episodik, mengandalkan punchline relasi dan perkembangan kecil yang terasa akumulatif.
“Saya berharap romcom pendeknya bukan sekadar lucu, tapi juga punya momen yang membuat kita diam sebentar sebelum ketawa lagi.”
Robico bukan cuma “pencipta Tonari”, ia punya reputasi panjang dan penghargaan besar
Membahas dua serial baru ini terasa lebih seru kalau kita ingat posisi Robico di industri. Ia dikenal luas lewat Tonari no Kaibutsu kun dan juga Boku to Kimi no Taisetsu na Hanashi, yang meraih penghargaan Kodansha Manga Award ke 44 kategori shoujo.
Dengan rekam jejak seperti itu, “memulai dua manga baru” bukan sekadar berita pembuka serial. Ini juga sinyal bahwa Robico masuk fase produktif baru dengan keberanian mencoba dua jalur sekaligus.
Dan dua jalur itu menarik karena tidak bertabrakan. Justru saling melengkapi: satu untuk pembaca yang ingin suasana dan misteri, satu untuk pembaca yang ingin tawa dan kehangatan cepat.
Perubahan genre yang terasa jelas, dari romansa sekolah ke dunia yang lebih luas

Banyak kreator sukses terjebak dalam bayangan karya populernya. Namun langkah Robico kali ini terasa seperti upaya sadar untuk memperluas wilayah. Yuuyami to Kataware terdengar seperti kisah hubungan yang lebih “ganjil” dan dewasa secara nuansa, sementara Maou sama Kekkon desu! seperti eksperimen membuat romcom singkat yang bisa viral karena premisnya sederhana.
Bahkan dari deskripsi resmi Yuuyami, fokusnya bukan lagi sekadar “siapa suka siapa”, tapi “siapa menemukan separuhnya dalam situasi yang tidak wajar”.
“Saya menunggu momen ketika pembaca yang awalnya datang karena Tonari, lalu bertahan karena sadar: Robico ternyata bisa bercerita jauh lebih luas.”
Jadwal rilis Manga yang berdekatan membuat 2026 jadi tahun yang padat untuk Robico
Secara timeline, dua judul ini berangkat dalam rentang yang nyaris menempel: Yuuyami to Kataware mulai 19 Februari 2026, lalu Maou sama Kekkon desu! mulai 5 Maret 2026.
Manga Ini bisa dibaca sebagai strategi yang rapi. Saat satu serial mulai membangun pembaca, serial lain menyusul untuk mengunci perhatian publik. Di sisi lain, ini juga tantangan ritme produksi yang tidak kecil, karena dua serial berarti dua dunia, dua tempo, dua cara menyusun punchline dan emosi.
Namun Robico sendiri menegaskan bahwa ia menjalankan dua serial itu bersamaan, yang memberi sinyal bahwa ia memang mempersiapkannya sebagai paket.
“Kalau dua judul ini sama sama kuat, 2026 bisa jadi tahun ketika nama Robico kembali disebut bukan karena nostalgia, tapi karena karya barunya memang layak dibicarakan.”

