Gelombang nostalgia sedang melanda dunia, dan salah satu yang paling mencuri perhatian datang dari Jepang. Musik City Pop, yang dulu menjadi simbol urban Jepang era 80-an, kini bangkit lagi dan bahkan mendunia melalui YouTube, TikTok, dan playlist Spotify global. Bukan sekadar musik, City Pop telah menjadi gaya hidup baru bagi generasi muda yang haus akan estetika retro, kesan neon malam Tokyo, dan romantika masa lalu yang berkilau dalam bayangan masa kini.
“Setiap kali mendengar lagu City Pop, rasanya seperti sedang naik mobil klasik menyusuri jalanan Shibuya di malam musim panas”
Akar Sejarah City Pop: Ketika Jepang Merayakan Era Keemasan Ekonomi
Sebelum City Pop kembali jadi tren global, musik ini lahir di era yang penuh optimisme. Jepang pada tahun 1980-an sedang berada di puncak kejayaan ekonomi. Kota-kota seperti Tokyo, Yokohama, dan Osaka bertransformasi menjadi pusat gaya hidup modern. Mobil sport, menara neon, dan bar bergaya California menjadi simbol kemakmuran.
Musik City Pop lahir dari suasana itu. Ia merupakan hasil fusi antara jazz, funk, R&B, dan pop Barat yang dibungkus dengan nuansa kota besar Jepang. Artis seperti Tatsuro Yamashita, Mariya Takeuchi, Anri, Taeko Ohnuki, dan Hiroshi Sato adalah pionir yang membawa City Pop menjadi cerminan “kota impian” Jepang.

Yang membuat City Pop berbeda adalah kemampuannya menangkap atmosfer metropolitan yang elegan, sedikit romantis, dan penuh kebebasan. Lagu-lagunya tidak hanya berbicara tentang cinta, tapi juga tentang perjalanan malam, kafe di pinggir teluk, atau rasa sepi di tengah gemerlap Tokyo.
Ikon Tak Lekang Waktu: Mariya Takeuchi dan Tatsuro Yamashita
Tidak mungkin membicarakan City Pop tanpa menyebut nama Mariya Takeuchi dan suaminya, Tatsuro Yamashita. Lagu “Plastic Love” milik Mariya Takeuchi, yang rilis tahun 1984, menjadi simbol kebangkitan genre ini. Uniknya, lagu tersebut tidak sempat menjadi hit besar di masanya, namun puluhan tahun kemudian justru viral di YouTube berkat algoritma dan keajaiban nostalgia digital.
Gaya vokal Mariya yang lembut berpadu dengan aransemen funky membuat lagu itu terasa abadi. Bahkan, banyak orang di luar Jepang mengira “Plastic Love” adalah lagu barat karena kualitas produksinya yang begitu matang.
Tatsuro Yamashita, dengan karya seperti “Sparkle” dan “Ride on Time”, dikenal sebagai sosok perfeksionis yang menulis, mengaransemen, dan memproduksi sendiri musiknya. Lagu-lagunya menggambarkan Tokyo dari balik kaca mobil sport dengan pendar lampu jalan yang memantul di kap mobil.
“Ketika mendengarkan ‘Ride on Time’, saya merasa seperti kembali ke masa ketika hidup terasa lebih pelan, tapi lebih berwarna”
Estetika Visual City Pop: Neon, Langit Senja, dan Aroma Nostalgia
City Pop bukan hanya soal musik. Ia adalah dunia visual yang lengkap. Dari sampul album, fashion, hingga gaya ilustrasi yang mengiringinya, semuanya memiliki karakter khas: neon pink, biru elektrik, matahari terbenam di pantai, dan arsitektur futuristik khas Tokyo 80-an.
Sampul album “A Long Vacation” karya Eiichi Ohtaki misalnya, menampilkan gaya ilustrasi retro yang mengingatkan pada lukisan-lukisan karya Eizin Suzuki. Pemandangan pantai tropis dengan mobil sport parkir di depan rumah kaca menjadi gambaran klasik City Pop.
Kini, gaya visual ini kembali muncul dalam berbagai bentuk. Brand fashion, desainer grafis, hingga seniman digital banyak mengadaptasi warna dan tone City Pop untuk karya mereka. Bahkan, filter-filter dengan nuansa “retro Tokyo” di Instagram dan VSCO disebut-sebut terinspirasi dari atmosfer City Pop.
“City Pop bukan sekadar nostalgia. Ia adalah cara baru untuk merayakan masa lalu dengan sentuhan masa kini”
Algoritma dan Kebangkitan City Pop di Era Digital
Salah satu faktor paling menarik dari kebangkitan City Pop adalah peran algoritma YouTube. Sekitar tahun 2017-2019, banyak pengguna tiba-tiba menemukan lagu “Plastic Love” di rekomendasi mereka. Thumbnail khas dengan wajah Mariya Takeuchi yang teduh, ditambah durasi lagu panjang dengan nuansa “soft disco”, membuat banyak orang terpikat.
Video itu disaksikan jutaan kali, dan menjadi pintu gerbang bagi jutaan pendengar baru ke dunia City Pop. Dari situ, playlist seperti “Tokyo Night Drive”, “Neon Japan”, dan “Japanese 80s Vibes” bermunculan di Spotify, Apple Music, hingga SoundCloud.
Banyak DJ dan produser muda pun mulai membuat remix City Pop versi lo-fi atau vaporwave, membawa genre ini ke ranah yang lebih modern tanpa kehilangan ciri khasnya.
“City Pop terasa seperti menemukan piringan lama di toko vinyl yang berdebu, tapi ketika diputar, musiknya terdengar lebih hidup daripada apa pun yang sedang tren”
City Pop dan Generasi Z: Nostalgia yang Tak Pernah Dialami
Fenomena menarik lain dari kebangkitan City Pop adalah penggemarnya kini justru datang dari generasi yang tidak pernah mengalami era 80-an. Anak muda berusia 18-25 tahun mengoleksi kaset, vinyl, dan mengenakan outfit dengan nuansa retro seperti jaket kulit, celana high-waist, dan kacamata aviator.

Bagi mereka, City Pop adalah simbol dari “slow life” di tengah dunia digital yang serba cepat. Irama lembut, lirik romantis, dan melodi penuh warna menjadi bentuk pelarian dari stres modern.
Musik ini juga memberikan mereka cara baru untuk mengekspresikan diri melalui media sosial. Banyak video aesthetic di TikTok menggunakan lagu seperti “Stay with Me” (Miki Matsubara) atau “Midnight Pretenders” (Tomoko Aran) sebagai latar untuk video bertema retro Tokyo.
“Saya belum pernah ke Jepang tahun 80-an, tapi City Pop membuat saya merasa pernah hidup di sana”
Dari Tokyo ke Dunia: Bagaimana City Pop Menembus Batas Global
Kekuatan City Pop ada pada keuniversalan nadanya. Meski liriknya berbahasa Jepang, banyak orang di luar Jepang bisa merasakan emosinya. Lagu-lagu City Pop sering berbicara tentang cinta yang tak sempat tersampaikan, malam yang sunyi di kota besar, atau perjalanan menuju tempat baru. Tema-tema itu terasa dekat bagi siapa pun.
Tak heran bila City Pop kini menjadi bahan sampling di dunia musik internasional. Produser seperti Macross 82-99, Yung Bae, dan Saint Pepsi menggunakan elemen City Pop dalam karya mereka. Bahkan beberapa musisi barat terinspirasi untuk menciptakan lagu baru dengan nuansa yang sama.
Dalam dunia fashion, gaya City Pop juga menjelma jadi tren. Brand seperti Uniqlo dan GU merilis koleksi bertema retro 80-an, lengkap dengan font bergaya VHS dan warna neon pastel. Di dunia desain interior, gaya “City Pop Room” yang menggabungkan poster retro, lampu ungu, dan vinyl player kini banyak digandrungi.
Lagu-lagu City Pop Paling Ikonik Sepanjang Masa
Berikut adalah daftar lagu-lagu City Pop yang dianggap paling berpengaruh dan menjadi fondasi dari kebangkitan genre ini di dunia modern:
| Judul Lagu | Artis | Tahun Rilis |
|---|---|---|
| Plastic Love | Mariya Takeuchi | 1984 |
| Ride on Time | Tatsuro Yamashita | 1980 |
| Stay With Me | Miki Matsubara | 1979 |
| Telephone Number | Junko Ohashi | 1981 |
| Summer Connection | Taeko Ohnuki | 1977 |
| I Love You So | Anri | 1983 |
| Midnight Pretenders | Tomoko Aran | 1983 |
| Sparkle | Tatsuro Yamashita | 1982 |
| Mayonaka no Door | Maki Matsubara | 1979 |
| Kimi wa 1000% | 1986 Omega Tribe | 1986 |
Hubungan City Pop dengan Subkultur Jepang Lain
Kebangkitan City Pop juga bersinggungan dengan subkultur Jepang lain seperti Aesthetic Vaporwave, Shibuya-kei, dan Showa nostalgia. Vaporwave, misalnya, mengambil banyak elemen dari City Pop—baik dari segi musik maupun visual.
Sementara itu, Shibuya-kei yang populer di tahun 90-an, seperti karya Pizzicato Five atau Cornelius, merupakan evolusi dari City Pop yang lebih eksperimental. Generasi baru kini melihat City Pop bukan sekadar genre, melainkan fondasi dari seluruh estetika retro Jepang modern.
Selain itu, muncul juga komunitas yang menghidupkan kembali gaya hidup ala City Pop, dari mengoleksi kaset original, kamera analog, hingga membuat konten “Tokyo at Night Drive” dengan mobil tua.
“City Pop membuat saya menghargai masa lalu yang tidak pernah saya alami. Ada kehangatan di antara suara sintetis dan lampu neon”
Fenomena City Pop di Indonesia: Dari Café ke Dunia Digital
Menariknya, tren ini juga menjalar ke Indonesia. Banyak kafe di Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta mengadaptasi konsep City Pop dengan interior berlampu neon, poster retro, dan playlist Jepang 80-an.
Event seperti “Tokyo Night Vibes” atau “City Pop Vinyl Market” juga sering digelar dengan DJ lokal memutar lagu dari Mariya Takeuchi hingga Omega Tribe. Kaum muda urban Indonesia melihat City Pop bukan hanya musik, tapi identitas gaya hidup yang santai dan elegan.

Di platform streaming, playlist bertema City Pop lokal pun mulai bermunculan. Bahkan beberapa musisi indie Indonesia mulai bereksperimen dengan gaya serupa, menggabungkan City Pop dengan nuansa bahasa Indonesia.
“City Pop itu seperti kopi dingin di malam hujan. Menenangkan tapi juga memunculkan kenangan yang belum pernah terjadi”
City Pop dalam Dunia Anime dan Pop Culture Modern
Salah satu alasan City Pop terus relevan adalah karena banyak anime dan film Jepang modern mengambil inspirasi dari nuansa musik dan visualnya. Film seperti “Ride Your Wave” atau “Belle” menampilkan warna neon dan suasana urban yang seolah membawa kembali semangat City Pop.
Anime lawas seperti “Cat’s Eye” dan “Urusei Yatsura” bahkan kini disebut sebagai “visual City Pop era Showa” karena menggambarkan gaya hidup metropolitan dan karakter wanita independen yang kuat—tema yang juga sering muncul dalam lirik City Pop.
Banyak kreator konten dan ilustrator digital di platform seperti Pixiv dan Instagram juga membuat fan art City Pop dengan gaya yang memadukan karakter anime dan suasana retro Tokyo.
Evolusi Modern: Neo City Pop dan Generasi Baru Musisi Jepang
Kini, muncul gelombang baru yang disebut “Neo City Pop” atau “Modern City Pop”. Musisi seperti Suchmos, Lucky Tapes, Nulbarich, dan Evening Cinema membawa napas baru pada genre ini dengan sentuhan R&B dan elektronik modern.
Mereka tidak sekadar meniru gaya lama, tapi menciptakan interpretasi baru dari semangat City Pop. Lagu-lagu mereka tetap membawa aroma nostalgia, namun dikemas dengan sound produksi masa kini.
Generasi baru ini membuktikan bahwa City Pop bukan sekadar tren musiman, melainkan warisan budaya musik Jepang yang terus berevolusi. Banyak label Jepang kini bahkan membuat seri rilisan ulang vinyl City Pop klasik, yang habis terjual dalam hitungan jam.
“Neo City Pop terasa seperti surat cinta dari masa lalu untuk masa depan”
Antara Musik dan Identitas: Mengapa City Pop Begitu Menyentuh
Bagi banyak orang, City Pop bukan sekadar nostalgia atau tren estetik. Ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya: rasa melankolia yang hangat. Lagu-lagu seperti “Stay With Me”, “Telephone Number”, atau “Summer Connection” punya keindahan sederhana yang sulit dijelaskan.
Musik ini berbicara tentang momen singkat, tentang cinta yang tak berujung, dan tentang malam yang tak ingin berakhir. Ia menggambarkan perasaan universal yang bisa dirasakan siapa pun di mana pun.
“City Pop membuat saya belajar bahwa kebahagiaan kadang ada di antara dua lampu jalan, di tengah lagu yang belum selesai”
City Pop Sebagai Lifestyle Modern
Lebih dari sekadar genre musik, City Pop kini telah menjadi gaya hidup. Orang mendengarkannya sambil bekerja, mengemudi, bahkan sebagai pengiring meditasi. Banyak yang menyebutnya sebagai “urban healing music”.
Produk-produk bertema City Pop kini juga menjamur, mulai dari kaus bertuliskan “Tokyo Night Drive”, tote bag dengan ilustrasi retro, hingga parfum yang terinspirasi oleh malam musim panas di Tokyo.
Di dunia media sosial, estetika City Pop menjadi simbol “coolness” yang tenang. Tidak heran jika tren ini begitu disukai oleh fotografer, musisi, dan kreator konten.
City Pop di Masa Kini: Antara Nostalgia dan Harapan
Setiap era punya cara sendiri untuk merayakan masa lalunya. Namun, kebangkitan City Pop terasa lebih istimewa karena ia hadir bukan hanya sebagai kenangan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara generasi.
Di balik dentingan keyboard dan suara drum elektroniknya, City Pop mengajarkan bahwa keindahan bisa abadi jika disampaikan dengan ketulusan. Mungkin itu sebabnya, meski lahir lebih dari empat dekade lalu, musik ini masih terdengar segar di telinga siapa pun yang mendengarnya hari ini.

